"GELEM MI Salafiyah Bangilan-Tuban."

Peserta didik kelas 3 sedang membaca 15 menit di perpustakaan MI Salafiyah Bangilan-Tuban.

Gerakan Literasi Madrasah (GELEM) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan madrasah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat yang melibatkan publik. Masyarakat Indonesia mempunyai daya baca yang masih sangat rendah, dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura sangat tertinggal jauh. Kebiasaan membaca buku di negara Malaysia dan Singapura sudah sangat tinggi bahkan mencapai 5 buku dalam setiap minggu yang dibaca. Hebat bukan? Sedangkan masyarakat kita dalam satu tahun hanya menghabiskan 1 buku saja itupun tidak selesai untuk dibaca bahkan ada yang tidak pernah membaca buku sama sekali. Hebat bukan? Sama-sama hebat namun sangat kontradiktif. Memang secara logika kebutuhan akan buku di masyarakat kita masih sangat rendah karena harga buku cukup mahal lebih baik digunakan untuk beli kebutuhan pokok saja. Urusan membaca tidak hanya berupa buku saja, membaca bisa dilakukan di internet namun terkadang ironis juga mereka lebih suka menggunakan internet untuk main game, chatting dan bertiktok ria bahkan bersosialita. Ironis. Oleh karena itu sebaiknya sejak dini anak didik diperkenalkan kepada kebiasaan membaca. Meski hanya 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum pelajaran dimulai. Agar anak didik menjadi terbiasa membaca buku. Lama kelamaan menjadi budaya membaca yang baik. Melihat peluang masa depan generasi muda Indonesia yang sangat besar terhadap perkembangan global melalui bonus demografi. Sumber daya manusia kita sangatlah besar beserta dengan  kekayaan sumber daya alamnya. Sangat melimpah. Jangan sampai kita lengah. 
Sudah saatnya mengelola sumber daya manusia yang kompeten agar bisa mengembangkan inovasi untuk sumber daya alam kita. 
Melalui banyak membaca buku peserta didik akan menjadi aktif dan berkembang pola pikirnya secara perlahan-lahan. Mempunyai nalar yang positif serta imajinasi yang luas dan kritis. Banyak pengetahuan dan informasi yang mereka dapatkan sehingga akan menjadi generasi pembelajar yang konsisten dan tangguh. 
Menggerakkan literasi melalui membaca buku non pelajaran selama 15 menit pada peserta didik MI Salafiyah Bangilan ini demi menunjang kemampuan peserta didik dalam memahami kalimat yang ada dalam buku bacaan dengan baik juga bisa menerapkan membaca satu hari satu halaman dan tidak terasa dalam 100 hari mereka sudah menghabiskan 100 halaman yang ada dalam buku. Luar biasa bukan? Pelan tapi pasti.

Contoh Buku Literasi peserta didik MI Salafiyah Bangilan.

Gerakan literasi madrasah ini juga disertai dengan pengisian buku literasi sebagai penghubung antara peserta didik, guru dan orang tua. Ketiga aspek ini akan lebih mudah untuk saling mengetahui kemampuan anak dalam membaca buku. Karena buku literasi anak ini seperti jurnal membaca yang bisa dicek dalam setiap waktu. Sampai dimana kegiatan anak dalam hal membaca buku dan buku apa saja yang telah dibacanya setiap hari? Semua akan saling mengetahuinya secara mudah tinggal melihat pada buku literasi siswa. Contoh buku literasi ada banyak silahkan mencari format seperti apa yang diinginkan oleh madrasah. Yang terpenting anak dibuatkan buku literasi sebagai tanda hubung antara madrasah dan orang tua terkait kegiatan membaca 15 menit di madrasah. Selamat membaca! (R.S)


Postingan populer dari blog ini

MI Salafiyah Bangilan-Tuban Gelar Pawai Perayaan Tahun Baru Hijriah 1444 H

TANTANGAN DAN HARAPAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BAGI MADRASAH

"Tiga Jawara MI Salafiyah Bangilan Sabet 3 Piala di Maarif Competition VII 2022."