"Membaca Buku Terbimbing pada Siswa Kelas 1 di MI Salafiyah Bangilan-Tuban"
Ibu Umi Hasanah, S.Pd.I, Guru kelas 1 MI Salafiyah Bangilan-Tuban dalam membaca buku terbimbing di Perpustakaan.
MISBIA. Kenapa harus ada membaca buku terbimbing? Karena untuk memahamkan pemahaman peserta didik dalam memahami bacaan dalam buku. Meskipun semua peserta didik sudah mampu membaca namun dalam segi pemahaman anak sangatlah berbeda. Ada yang sangat cepat, sedang, dan lamban. Dan guru lebih mudah dalam memetakan kemampuan anak yang homogen dalam segi membaca buku.
Membaca terbimbing membantu setiap siswa untuk memproses berbagai macam teks dengan tingkat kesulitan yang meningkat secara berjenjang, tidak hanya dalam hal kelancaran tetapi juga di sisi pemahaman. Dengan demikian, siswa akan mengembangkan minat baca, keterampilan membaca, dan kepercayaan diri sehingga nantinya mereka akan mampu menjadi pembaca yang baik.
Membincang keberadaan guru, seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi anak yang berbeda, beragam satu sama lain. Keberagaman yang segera dapat dikenal oleh seorang guru tentang anak didiknya adalah perbedaan fisik, seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya. Mungkin sepintas dua orang dilihat hampir sama atau mirip, akan tetapi pada kenyataanya jika diamati antara keduanya tentu terdapat kemajemukan. Menurut Atkinson dkk (1996) ada beberapa perbedaan yang dapat diamati pada individu anak, antara lain yaitu: 1) perbedaan kognitif, 2) perbedaan kecakapan berbahasa, 3) perbedaan kecakapan motorik, 4) perbedaan latar belakang, 5) perbedaan bakat, 6) perbedaan kesiapan belajar, 7) perbedaan jenis kelamin dan gender, dan 8) perbedaan kepribadian.
Disadari bahwa perbedaan-perbedaaan antara satu dengan lainnya dan juga kesamaan-kesamaan di antara mereka merupakan hal yang wajar dan normal. Misalnya, perbedaan kecakapan bahasa anak dapat dipengaruhi oleh bahasa pertama mother tongue yang diperolehnya dari orangtua, perbedaan latar belakang anak menjadikan anak pribadi yang tertutup, dan lain sebagainya.
Guru juga memperdalam pemahaman siswa terhadap buku yang dibaca dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang efektif dan HOTS (High Order Thinking Skills). Guru juga membimbing siswa untuk mendiskusikan dan menanggapi bacaan tentang tokoh, latar waktu, latar tempat, dan isi cerita serta kosakata baru yang terdapat di dalam bacaan supaya membantu siswa menghubungkannya dengan kehidupan mereka sehingga siswa mampu memahami isi bacaan.
Guru menjadi penggerak utama dalam hal kebiasaan membaca buku. Mencintai buku, mencintai pengetahuan. Ayo!
Membuat pojok baca siswa yang sederhana sudah sangat membantu anak untuk rajin dan disiplin membaca.
Pada akhirnya, memelihara budaya baca sejak dini perlu digalakkan melalui pembiasaan dan keyakinan ala bisa karena biasa. Terbiasa membaca sejak kecil akan membawa kebisaan dan tumbuhnya literasi, budaya membaca, bagi anak didik. Ayo tetap rajin membaca dan disiplin baca buku agar kelak menjadi generasi yang senang membaca peradaban dunia. Semangat! (R.S)